Hati-hati, 4 Modus Penipuan Online Ini Mengintai di Masa Pandemi

https://lh5.googleusercontent.com/pLCNNtluDM27k8msctbeboDMKzA0IVw0nNzXfXQ2MtOftElpJxqzmNDIGW1_xWkin7NbSnKmSfJk0ncym0tH0UBBFwVHTbFxLR4cZy-IOk_p1unO7Mbt3Vm9XaX1I3YVVkaB3LLO

Selalu ada celah bagi pelaku kejahatan untuk melancarkan aksinya di tengah kondisi darurat. Tak terkecuali di masa pandemi Covid-19. Penawaran pinjaman uang online abal-abal adalah salah satunya. Mengingat, lesunya perekonomian dan kebutuhan yang meningkat, pinjaman menjadi salah satu cara bagi sebagian orang untuk dapat menyambung hidup.

Padahal, saat ini banyak sekali fintech pinjaman uang online legal yang sudah terdaftar di OJK dan terpercaya. Seperti Kredivo, fintech yang memiliki bunga paling rendah yaitu 2,6% per bulan, baik untuk cicilan barang di 350+ merchant ternama di Indonesia ataupun pengajuan pinjaman uang tunai mulai dari 500 ribu rupiah. Kredivo juga dapat memberikan limit kredit maksimal hingga Rp 30 juta dengan syarat pendaftaran yang sangat mudah. Namun faktanya, tetap saja masih banyak orang yang mengajukan pinjaman uang online ke fintech ilegal yang berpotensi merugikan. 

Belakangan, total ada 4 modus penipuan online yang marak terjadi selama masa pandemi dan harus diwaspadai, yaitu: 

Penipuan tawaran pinjaman uang online

Melihat kondisi ekonomi yang menurun dan banyaknya masyarakat yang butuh pinjaman demi menyambung hidup, dari sinilah modus penipuan tawaran pinjaman uang online berakar di tengah pandemi. Mulai dari melakukan penawaran di media sosial, SMS berisi link aplikasi atau apk, aplikasi di Google Play Store yang belum terdaftar di OJK, dan masih banyak lagi. 

Maka dari itulah, jika membutuhkan dana pinjaman dan berniat menggunakan jasa pinjaman uang online, kita wajib memilih fintech yang terdaftar di OJK dan memahami risikonya. Jangan langsung mencari aplikasi pinjaman di Google Play Store atau App Store. Kamu dapat berkunjung ke situs ojk.go.id untuk melihat nama-nama fintech yang benar sudah terdaftar. 

Dikutip dari Kompas.com, Tongam L Tobing selaku Ketua Satgas Waspada Investasi OJK juga mengimbau masyarakat untuk meminjam sesuai kemampuan, mengutamakan dana pinjaman untuk aktivitas produktif daripada konsumtif, dan memahami risiko seperti tingkat suku bunga dan denda keterlambatan yang harus dibayar apabila terlambat membayar tagihan. Per awal Juli 2020, Satgas Waspada Investasi dari OJK masih menemukan ratusan fintech ilegal yang bermunculan dan menawarkan jasanya kepada masyarakat. Jadi, sangat diperlukan ketelitian dan kewaspadaan kita jika ingin menggunakan jasa fintech pinjaman online. 

Penipuan transaksi belanja online

Sekitar bulan Maret dan April, penipuan transaksi belanja masker secara online cukup marak terjadi. Ini terjadi karena bulan-bulan tersebut menjadi titik krisis awal pandemi Covid-19 di Indonesia sehingga menyebabkan kepanikan yang berujung pada kelangkaan beberapa alat protokol kesehatan seperti masker dan hand sanitizer. Kondisi ini juga dijadikan kesempatan bagi banyak oknum untuk melakukan penimbunan dan menjual kembali dengan harga lebih dari 100%.

Banyak oknum yang mengaku memiliki stok masker kemudian menawarkan produknya lewat media sosial hingga marketplace. Ketika ada konsumen yang membeli dengan harga jutaan hingga puluhan juta, barang yang dikirim tidak sesuai atau bahkan tidak ada pengiriman apa pun. 

Belajar dari kasus ini, selain memilih tempat belanja online yang terpercaya, kita juga perlu melakukan pengecekan rekening penjual di situs cekrekening.id yang digagas Kemenkominfo. Tujuannya untuk melihat dan memverifikasi apakah rekening penjual pernah diadukan karena kasus penipuan atau tidaknya. Ini perlu dilakukan terutama jika kamu belanja online di luar marketplace atau e-commerce. Misalnya, lewat Facebook atau Instagram. 

Penipuan investasi saham

Meningkatnya transaksi dan aktivitas online selama pandemi berpengaruh pada meningkatnya tingkat kriminalitas siber. Salah satunya adalah transaksi investasi saham secara online. Banyak oknum penipu di dunia siber yang melakukan modus iming-iming investasi agar mendapatkan uang. Dikutip dari Kompas.com, dikemukakan oleh Deputy Head of Marketing IPOT dari PT Indo Premier Sekuritas, Paramita Sari, sasaran utama penipu siber ini adalah para investor. Mereka beraksi dengan membobol akun kemudian mengincar username, password, hingga secure PIN. 

Hal utama yang perlu diwaspadai terkait ini adalah telepon atau komunikasi yang tiba-tiba dari orang tidak dikenal yang mengaku sebagai pegawai perusahaan investasi. Jika mengalami kondisi ini, berpikirlah dengan jernih dan jangan berikan data apa pun yang terkait pribadi ataupun investasi sahammu. Segera hubungi call center resmi dari perusahaan investasi terkait apabila kamu mengalami kendala. 

Penipuan transaksi perbankan

Transaksi digital perbankan juga termasuk yang tidak luput dijadikan sasaran modus penipuan. Terutama transaksi dengan internet banking atau m-banking. Serupa dengan modus penipuan transaksi online lainnya, penipu akan menghubungi nasabah dan mengaku-ngaku berasal dari pihak bank. Kemudian, ia akan meminta PIN hingga M-Token dari nasabah agar bisa melancarkan aksi kejahatannya. Maka dari itu, penting sifatnya untuk selalu menjaga kerahasiaan akses login akun perbankanmu. Kamu juga perlu mengganti PIN ATM ataupun m-banking secara berkala agar lebih aman. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *