Published On: Mon, May 12th, 2014

Aku Kartini Berikutnya

Oleh : Veronika Joan

Malam ini terasa begitu dingin. Kulihat langit terbentang diatas. Bintang-bintang yang kuhitung semuanya berjumlah delapan. Entah mengapa aku suka angka delapan. Delapan itu angka kelahiranku. Delapan itu angka baik menurut kepercayaan keluargaku. Sudahlah, itu cerita lain. Kini aku duduk di balkon kamarku, memandang sekitar rumah yang kukontrak kurang lebih enam bulan yang lalu. Lingkungannya ramah. Entah aku mudah akrab dengan tetanggaku disini. Aku suka lingkungan disini. Mungkin juga karena disini aku dipanggil Manohara.

Aku jadi ingat pertama kali aku kesini. Bagiku itu adalah sebuah pengorbanan besar. Pengalaman yang tak terlupakan. Tidak ada satu orangpun yang menolongku saat itu. Pikiranku melayang ke saat dimana aku terpaksa harus memulai babak baru dalam hidupku.

—–

Kukejapkan beberapa kali mataku saat kudengar ibuku berbicara keras di luar kamar. Aku tidak pernah mendengar ia berteriak sekeras itu. Kulihat kalender di kamarku samar-samar karena kumatikan lampu malam itu. Angka yang kubulatkan masih mangka dua puluh dua bulan Agustus. Kulihat jam bergambar Winnie The Pooh masih menunjuk angka tiga. Kurasa di luar masih sangat gelap. Kupikir aku bermimpi. Aku kemudian sibuk dengan selimutku, lalu kembali tidur. Esok paginya aku bangun seperti biasa, dengan kebiasaanku yang sedikit buruk,mengompol. Hari ini Hari Minggu, yeah. Aku sudah senang sekali, karena setiap hari Minggu, aku, Kak Reni, dan Kak Sissy pasti pergi ke gelanggang olah raga. Ayahku seorang atlet renang. Karena itu semua anaknya harus mengikuti jejaknya. Satu yang bisa kubanggakan. Dari tiga anak ayahku, hanya aku yang mendapat penghargaan dari olahraga renang. Kurasa tiga medali cukup untuk seorang bocah perempuan berumur delapan tahun. Bangga sekali perasaanku. Tapi mungkin saat umurku delapan tahun itulah ayanga merupakan saat paling tidak membahagiakan dalam hidupku.

Tiga hari berselang dari hari itu. Aku baru pulang dari sekolahku yang cukup jauh letaknya dari rumah. Aku pulang lebih cepat dari biasanya. Saat itu kulihat ibuku menangis terduduk di lantai. Wajahnya lebam. Kuperhatikan seluruh ruang di rumahku. Salah satu kursi meja makan hancur , dan salah satu kaki kursi terletak di sebelah ibuku. Kutanya ibuku apa yang terjadi, namun ia tak menjawab. Kemudian kutanya lagi.

“Mama kenapa?”

“Nia Sayang, jangan menangis, Nak…”

“Mama mau taasama Nia, Nia sayang sama Mama, Nak?”

“Nia sayang Mama, Nia sayang. Tapi mama kenapa?”

Namun ibuku hanya menangis dan itu membuat hatiku hancur. Kucoba memahami perasaan ibuku yang kukenal sangat baik ini. Tapi berkali kucoba, tetap tidak bisa. Mataku menelusur setiap ruang di rumahku. Kulihat dua lembar kertas HVS dalam map ungu muda yang terletak di kamar orangtuaku. Pasti ini awal dari semuanya, setidaknya begitu.

Jakarta, 25 Agustus 1998

Shin, sebelumnya saya hanya bisa minta maaf  atas semua yang terjadi. Cinta yang kamu berikan pada saya terlalu besar hingga saya tidak bisa membalas semua yang kamu berikan. Bertahun saya coba mencintaimu, tapi ini menyakiti hatiku sendiri. Jujur, saya mencintaimu walau terpaksa. Saya mencintaimu walau hanya satu tahun dari tujuh belas tahun pernikahan kita. Maafkan saya karena terlalu banyak berkata indah walau hanya di bibir terucap. Maafakan saya karena telah memilih untuk meninggalkan kamu dan anak-anak. Saya merasa kamu mengatur apapun yangs aya lakukan. Saya merasa kamu lebih segalanya dari saya. Kamu bagaikan Putri Kahyangan, sementara saya hanya seonggok daging busuk. Saya sadar kamu mengangkat derajatku dari seorang copet jalanan menjadi direktur utama perusahaanmu. Tapi kurasa sayapun sudah cukup berkorban untukmu dan anak-anak. Karena itu, kurasa ini waktunya bagi saya untuk berhenti dan menjalani hidup yang saya yakini. Saya memilih perempuan yang mendampingi saya selama ini. Enam belas tahun saya mengenal dia. Maaf sekali lagi. Maaf untuk mengatakan bahwa kami telah memiliki anak alelaki berumur empat tahun. Maaf untuk mengatakan bahwa cinta kami bahkan lebih kuat dari cinta yang kita bangun. Lina adalah perempuan yanga baik hati dan lugu. Umurnya tidak beda jauh dengan kamu. Tapi dia sangat berbeda dengan kamu. Dia hanya perempuan biasa, tidak sekaya dirimu, dan bahkan tidak sepintar dirimu. Saya merasa selama ini kamu terlalu dominan. Lalu apa arti saya dalam rumah tangga kita? Setidaknya saya merasa Lina lebih membutuhkan saya. Saya yakin kamu bisa menghidupi Reni dan Nia. Sissy adalah tanggunganku. Terima kasih karena kamu rela mengurus anakku dari pernikahanku dulu. Kamu sangat baik. Tapi kamu terlalu baik untuk saya. Saya mencintai perempuan lain. Terima kasih atas kebaikanmu selama ini.

Kemudian kulihat selembar surat dari kertas binderkuyang bergambar Winnie The Pooh. Ayahku memang tahu sekali aku sangat menyukai tokoh kartun itu. Kubaca surat itu.

Nia, papa tahu kamu sayang papa lebih dari apapun. Papa juga sayang kamu seperti kamu sayang papa. Sekarang papa harus pergi, Sayang. Mungkin agak lama, papa mau keluar kota. Papa pesan ke kamu, jaga mama dan Kak Reni ya, Sayang. Cuma kamu tumpuan papa, hari depan papa. Suatu saat papa akan kembali, Sayang, cuma buat kamu. Papa yakin kamu anak yang baik. Agamamu sekuat cintamu sama papa. Papa yakin kamu bisa jaga mama. Jadilah anak papa yang baik ya, Sayang. Jadilah anak yang pintar. Buat papa bangga. Ingat Sayang, suatu saat pasti papa akan kembali untuk kamu. Papa sayang kamu. Walau harus diakhiri dengan air mata, papa mau kamu memulai hari esok dengan senyum manismu, Sayang. Maaf papa harus pergi jauh.

Saat itu yang kubisa hanyalah menangis. Tapi yang kuyakini, ayahku orang yang baik. Ia hanya pergi sebentar. Tiga hari lagi juga pulang. Sama seperti biasanya. Tapi hari itu perasaanku lain. Aku terdiam, lalu berlari memeluk ibuku. Aku harus menjaga ibuku. Setidaknya itu pesan ayahku, dan kujalani itu karena aku sayang ayahku. Ya, ayahku orang baik. Setidaknya, biarkan aku berpikir seperti itu.

Hari demi hari berjalan dan ayahku tak kunjung pulang. Ibu dan kakakku kurasa sibuk dengan kegiatan sendiri-sendiri. Yaitu berusaha agar keluarga kecilku ini tetap bertahan. Perusahaan ibuku diambil alih ayahku, lalu bangkrut dan semua saham hilang, sehingga kini ibu dan kakakku harus membanting tulang dari nol. Sampai pada umurku dua belas tahun. Saat itu aku sudah mulai mengerti mengapa semua ini terjadi. Timbul dendam dalam hatiku. Tapi yang ini lain. Kupikir berulang kali, aku tidak bisa terus menerus hidup dalam kesedihan dan dendam. Aku tahu benar ayahku, juga sifat-sifatnya. Semua akan kumulai dari sana. Ya, dari sana…

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>