Published On: Mon, May 12th, 2014

Aku Kartini Berikutnya 2

Oleh : Veronika Joan

Akhirnya kucoba meminta kepada ibuku agar diperbolehkan mengikuti kursus-kursus. Dimulai dari Bahasa Inggris, melukis, menari, semuanya. Mungkin ini dendam versi lain. Tapi ini dendam yang lebih menusuk dari dendam apapun. Kurasa ini cukup untuk mebuat ayahku malu dan menyesal telah meninggalkan kami. Kunci dendamku, PENDIDIKAN. Aku yakin aku bisa menjadi orang yang terkenal karena wawasan dan pendidikanku. Dan ini akan membuat ayahku malu dan menyesal telah meninggalkan keluarga yang sebenarnya mampu menaikkan derajat dan nama baiknya sendiri. Ya, pasti.

kupelajari ulang semua yang aku dapatkan dari kursus-kursus itu, sampai akhirnya aku menguasai semua yang telah kupelajari. Ibuku tak hanya menemani, tapi ia juga memberiku semangat dan dorongan yang luar biasa. Sampai disini, kurasa rencanaku berjalan lancar. Tapi lebih dari itu, aku diberi beasiswa keluar negeri, dan aku menjadi pelukis termuda di kotaku. Namaku mulai dikenal melalui berbagai pameran dan koran-koran. Dendamku kemudian berubah menjadi obsesi yang luar biasa besar. Obsesi untuk membesarkan nama keluargaku. Aku ingin membuktikan bahwa anak broken home seperti akupun mampu bangkit dari keterpurukan tanpa harus menjamah narkoba seperti cerita klise selama ini.

Empat tahun berlalu, dan aku tumbuh menjadi remaja yang penuh obsesi dan memiliki mind set yang lebih jauh dari remaja-remaja seumuranku. Kini seratus tiga puluh delapan piala menghias ruang tamu rumahku. Bukan banggayang kurasakan, melainkan rasa puas. Rasa puas karena telah mencapai obsesiku. Puas karena setidaknya aku telah mengalahkan adik kecilku dari perempuan bernama Lina secara akademis. Kurasa adik laki-lakiku itu baru berumur tiga belas tahun, mungkin baru lulus SD. Aku yakin adikku belum bisa menghasilkan prestasi sepertiku. Setidaknya ini membuktikan aku menang diatas awan.

Namaku kemudian tersebar melalui pameran-pameran profesional yang aku ikuti belakangan. Mungkin ini yang membuat ayahku tiba-tiba muncul di pembukaan pameran perdanaku. Kaget pasti. Tapi memang ini yang aku harapkan sejak delapan tahun yang lalu. Ayahku kemudian berjalan mendekatiku. Namun aku hanya tersenyum tanpa memeluk. Aku memperlakukannya sama seperti pengunjung pameran yang lain. Kurasakan hatinya pasti sakit, tapi itu belum cukup untuk membayar sakitnya hati ibuku delapan tahun lalu. Hati seorang perempuan yang ditinggal suaminya untuk perempuan lain, tanpa biaya sedikitpun untuk anak-anaknya.

Sejak saat itu ayahku rajin mengunjungiku dan ibuku. Ia kerap menceritakan keadaannya sekarang. Ia telah berpisah dengan Lina, dan berharap kembali pada kami. Anaknya mengalami cacat mental di umurnya yang kelima dan Lina tidak lagi mau menerimanya. Ayahku juga berharap kami mau menerima anak dari Lina. Tapi sayang, Shinta yang ia kenal dua puluh lima tahun yang lalu bukan lagi Shinta yang ia hadapi sekarang. Shinta yang sekarang adalah Shinta yang tegas dan keras. Ia menghadapi hidup yang keras delapan tahun belakangan, dan ia sudah siap dengan segala kemungkinan hidup yang akan terjadi di depan. Dapat kutebak, ibuku menolak ayahku. Ibuku bukan seorang yang naif dan dibutakan oleh cinta. Sakit hatinya masih sama seperti delapan tahun lalu. Walau semua dendam telah hilang, tapi ibuku tetap tidak bisa menerima permintaan ayahku untuk kembali.

___

Kini aku berdiri sebagai anak dari seorang Kartini zaman ini. Kurasa ibuku pantas untuk predikat itu. Ia yang mendoktrinku dengan pendidikan sehingga membuatku selalu mengedepankan pendidikan di setiap aspek dalam hidupku. Ibuku juga selalu mengingatkanku bahwa cinta yang harus kupertaruhkan adalah cinta yang rasional, dari seseorang yang pantas dicintai dan sanggup mencintai. Kurasa aku mengerti maknanya sekarang. Ayahku adalah seorang yang sebenarnya sanggup mencintai, namun ia menolak untuk dicintai. Bagiku tidak penting peran istri atau suami. Ketika mereka masuk dalam suatu ruang bernamakan pernikahan, makanya semuanya harus saling mengerti dan melengkapi. Kurasa ayahku tidak bisa menerima keberadaan ibuku dengan strata pendidikan yang lebih tinggi darinya. Inilah yang menurutku cinta yang rasional. Cinta dimana seorang manusia mampu menerima keberadaan pasangannya apa adanya. Cinta dimana mereka mampu mengimbangi antara perasaan, ego, dan logika.

Tapi semua itu telah berlalu. Seperti yang Kartini katakan, “habis gelap terbitlah terang”. Kurasa ibuku perlu peribahasa baru layaknya Kartini. “Cintailah seseorang secukupnya, cintai hal terkecil darinya dahulu, lalu berkorbanlah demi itu. dan kamu akan merasakan cinta yang jauh lebih indah dari yang pernah kamu bayangkan. Itu adalah saat terpahit, sekaligus yang termanis dalam hidupku. Mulai saat ini, aku siap menjalani babak baru dalam kehidupanku. Aku, seorang yang ambisius, yakin akan memasuki kehidupan yang lebih baik dengan ibu dan kakak tunggalku. Kuharap seperti itu.

___

Malam ini masih terasa dingin, sama seperti menit-menit lalu dimana aku mengingat babak lalu dalam kehidupanku. Tapi kini dinginnya berbeda. Kurasakan pipiku basah. Mungkin memang pantas aku menangis mengingat masa-masa itu. Masa-masa dimana aku sadar bahwa disaat itu aku terpuruk, tapi aku harus bangkit hanya dengan pikiran yang menguatkan mental. Kurasa saat itu bukan dendam yang timbul, tapi motivasi untuk menjadi yang terbaik. Kini aku merasa semua yang kupikir dendam justru menaikkan derajatku dalam pendidikan. Aku sekarang menjadi debator forum berbasis bahasa Inggris dan akupun menjadi seorang pelukis yang cukup diperhitungkan.

Kini aku menjadi seorang mahasiswi di perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Aku sadar aku bukan mahasiswi yang cerdas, tapi aku bersyukur aku mempunyai softskill dan keyakinan yang sangat kuat. Setidaknya itu yang membantuku untuk dapat bertahan di dunia perkuliahan yang baru kumasuki sepuluh bulan ini. Aku juga selalu bersyukur ibuku selalu melatihku untuk tidak pernah putus asa, selalu kuat, dan bermental baja.

Aku bangga menjadi diriku. Perempuan yang mungkin memang lemah fisik, tapi mentalku cukup kuat. Aku bangga aku mempunyai sosok Kartini-ku sendiri, yang mengajarkanku menghadapi kehidupan yang keras, dan memperlihatkan kerasnya kehidupan kepadaku. Aku bertekad menjadi Kartini yang berikutnya. Perempuan yang tak lupa hakikatnya sebagai perempuan, tapi mempunyai tekad dan mental yang kuat untuk maju menghadapi kehidupan. Dan kujalani itu semua melalui pendidikan.

___

Saat ini umurku delapan belas tahun. Aku tinggal di sebuah kontrakan kecildi Bandung bersama ibuku. kakakku sudah menikah dan tinggal di Jerman bersama suaminya yang bekerja sebagai tenaga ahli di sana. Ia juga telah menyelesaikandouble degree-nya di Jakarta dan Australia. Aku juga mempunyai dua sahabat lelaki yang sangat menghibur, Ghana dan Inal. Mereka selalu ada untukku. Dan aku sekarang mempunyai kekasih yang sangat lembut padaku. Setidaknya ia cukup sabar menghadapi sifat kerasku selama ini. Ia sabar menungguku bertahun-tahun dan membantuku dalam segala hal. Perbedaan umur kami memang jauh, tapi untukku, itu tidak masalah. Aku menyayanginya, dan kurasa itu cukup. Hidupku tak pernah lebih baik dari sekarang. Ini yang terbaik. Meski harus kehilangan ayahku di usia yang begitu kecil, tapi aku mendapat banyak kebahagiaan yang lain.

Sekarang yang kutahu, aku mencintai ibu dan kakakku, tanpa aku merasa durhaka pada ayahku. Ayahku benar, ia akan kembali. Ia memang kembali. Ia tetap ayahku, tapi kini ia hanya menjadi bagian dari masa laluku. Bukan aku tidak memaafkannya, tapi menerimanya dan anaknya berarti menambah luka baru untuk ibuku. dan aku tidak mau menyakiti ibuku. Masa depanku ada di tanganku, dan itu termasuk campur tangan ibuku, Kartini-ku.

Kini aku berdiri lagi sebagai perempuan dengan daya pikir yang tinggi, perasaan yang peka, dan mampu menguasai ego. Tak akan kubiarkan ada yang menyakiti aku dan keluargaku. Mungkin sepuluh tahun lagi, Indonesia akan memiliki Kartini yang baru. Aku!

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>