Published On: Mon, Oct 24th, 2016

Melihat Panorama Surga & Neraka di Kelenteng Surga Neraka Singkawang

kelenteng-surga-neraka-singkawangWihara Dharma Suci Mulia begitu nama resminya. Namun, kompleks kuil tersebut lebih dikenal dengan sebutan Kelenteng Surga-Neraka. Lokasi peribadatan ini berdiri di punggung Bukit Pasi, Singkawang, Kalimantan Barat. Julukan Kelenteng Surga-Neraka disematkan karena kuil ini menggambarkan secara lengkap kehidupan manusia di akhirat berdasarkan ajaran Taoisme. Ada keindahan surga bagi manusia berbakti. Ada pula gambaran siksa neraka untuk para pendosa. Penghitungan amal dan dosa juga diilustrasikan melalui persidangan. Sidang para dewa akan memutuskan, seseorang langsung masuk surga atau menjalani siksa neraka dahulu.

Kompleks kelenteng ini terdiri atas tujuh bangunan kuil yang melambangkan surga di langit ketujuh. Begitu pula letak kuil yang menyebar dan bertingkat menjadi simbol tangga menuju nirwana.

Lokasi tertinggi di kompleks kelenteng ini ditempati kuil ketujuh. Kuil terdiri dari dua bangunan terpisah dengan ketinggian berbeda. Di kuil ketujuh terdapat empat sesembahan yang menjadi perantara raja surga dengan manusia. Di antara kedua kuil ketujuh terdapat kolam untuk ritual melempar Din. Sebelum melempar, pengunjung berdoa sembari menggemgam koin dan mengayunkan kedua tangan layaknya orang memuja. Mereka yang berhasil melempar koin ke seberang kolam diyakini dikabulkan doa dan permintaannya.

Kelenteng Surga-Neraka, berjarak sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Singkawang. Ini merupakan kelenteng tertinggi di Kalimantan Barat. Untuk sampai ke lokasi, pengunjung harus menyusuri jalanan menanjak. Jalan beraspal tersebut hanya bisa dilewati satu kendaraan roda empat.

Kelenteng pertama kali dibangun oleh Chai Tiam Fat, seorang tokoh spiritual Tionghoa di Singkawang pada 1957. Chai sebelumnya bertapa di lokasi ini untuk memusatkan kekuatan guna melindungi warga Singkawang dari ancaman kekuatan jahat. Ia kemudian mendapat wangsit untuk membangun kuil di punggung Bukit Pasi tersebut. Lokasinya di bukit dan menghadap laut, strategis dan cocok dengan feng shui.

Chai membangun kuil secara bertahap hingga menjadi kompleks kelenteng terbesar di Kalimantan Barat. Kompleks ini terakhir dipugar pada 2005 bersamaan dengan peresmian Yayasan Dharma Suci Mulia.

Kelenteng Surga-Neraka sering dikunjungi warga dari luar Kota Singkawang. Pengunjung paling ramai saat perayaan tahun baru Imlek dan Cap Go Meh. Selain beribadat, mereka juga ingin menyaksikan ritual penyucian diri para tatung. Tatung ialah sebutan untuk paranormal yang dirasuki arwah leluhur saat perayaan Cap Go Meh.

Para tatung berparade di jalan raya untuk menyucikan kota dari anasir jahat. Mereka berparade sembari memamerkan kekebalan tubuh terhadap benda tajam. Chai Tiam Fat itu seorang tatung. Dia dahulu juga menggelar ritual barsama tatung lain di sini.

Arsitektur kuil di Kelenteng Surga-Neraka juga unik dan menarik. Beberapa kuil terlihat meriah dengan kelir beraneka warna. Corak dan bentuk bangunan juga beragam rupa. Keberadaan kuil pun terlihat mencolok di antara hijau pepohonan.

Pengunjung kelenteng tidak hanya dari kalangan Tionghoa. Kunjungan pun tidak selalu berkaitan dengan perayaan atau tradisi tertentu. Banyak warga datang lantaran penasaran dengan julukan kelenteng, atau ingin menikmati panorama alamnya. Waktu Lebaran (Idul Fitri) juga banyak yang datang ke sini untuk bersantai.

Pemandangan alam yang membentang di hadapan kompleks kuil memang menarik untuk dinikmati. Sebagian dari sisi hijau wilayah Singkawang hingga batas pantai terlihat jelas dari punggung bukit tersebut. Semilir angin laut yang menuju perbukitan pun acap kali menggoda pengunjung untuk merebahkan badan dan memejamkan mata sejenak.

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>