Published On: Thu, Oct 27th, 2016

Mengungkap Misteri Kabuyutan Gunung Sangiang Garut

gunung-sangiang-garut-jawa-baratDi Tatar Jabar, banyak tersebar situs sejarah bernilai arkeologi tinggi. Sebagian sudah terbuka dan terkenal di kalangan khalayak seperti Gunung Padang (Cianjur), Karangkamulyan, Kawali, Panjalu (Ciamis), Batutulis (Bogor), Dayeuhluhur (Sumedang), dan lain-lain. Sebagian lagi masih. Belum dapat diuugkap asal-usul dan keberadaannya. Hal itu akibat kendala “pacaduan”(tabu) yang dipegang teguh masyarakat adat setempat atau kendala geografis karena terletak di lokasi terpencil sehingga sulit dijangkau. Contohnya situs kabuyutan Gunung Sangiang di Kampung Cileunca, Desa Ciwangi, Kecamatan Balubur Limbangan, Kabupaten Garut.

Situs berbentuk batu cadas setinggi kurang lebih 25 meter, panjang 20 meter, berada di puncak Gunung Sangiang. Penduduk Kampung Cileunca dan sekitarnya hanya menganggap situs tersebut sebagai “makam keramat”. Siapa yang dimakamkan disitu serta kapan kira-kira waktunya tidak ada yang tahu.

Kemungkinan besar situs kabuyutan Gunung Sangiang merupakan peninggalan masyarakat Sunda pra-Hindu. Posisi situs dan alam sekitarnya dapat dibandingkan dengan situs-situs lain, yaitu mengandung unsur tritangtu di buana, pegangan hidup dunia. Hal itu mencakup tekad (niat), ucap (gagasan, rencana) dan lampah (pelaksanaan). Ketiga unsur tersebut terpadu dalam konsep hidup sehari-hari nyaah ka sarakan, ngariksa alam, kahadean ka sasama (cinta tanah air, memelihara alam, dan kebaikan kepada sesama).

Gunung Sangiang sebagai bagian dari tritangtu, berperan sebagai pancer (tiang pancang) didukung oleh aliran beberapa sungai yang menyatu dalam sungai besar untuk menuju muara, juga didukung oleh situs-situs lain di sekelilingnya yang akan melahirkan sebuah pakumbuhan (kehidupan sosial).

Di kampung-kampung sekitar Cileunca, terdapat situs-situs lain. Di antaranya makam Sunan Rumenggong di Kampung Poronggol, yang ukurannya lebih besar dan lebih panjang dari makam-makam biasa. Sunan Rumenggong dipercaya sebagai leluhur para dalem Limbangan, yang menjadi cikal bakal Kabupaten Garut sekarang.

Areal kawasan Gunung Sangiang memang memenuhi syarat untuk dijadikan kawasan cagar budaya, sesuai dengan pasal 36 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Cagar Budaya. Oleh karena itu keamanan di areal Gunung Sangiang dan situs makam Sunan Rumenggong harus dijaga dan dipertahankan. Jangan sampai bukti-bukti yang masih terserak di mana-mana, di tempat terbuka dan di lahan-lahan milik penduduk, rusak atau berubah, sebelum para ahli dari Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Jawa Barat membuat keputusan final setelah melakukan evaluasi dan penelitian lanjutan.

 

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>